Panduan lengkap budidaya ikan lele
Ikan lele ialah salah satu tipe ikan yang cakap hidup dalam kepadatan tinggi. Ikan ini mempunyai tingkat konversi pakan menjadi beban tubuh yang bagus. Dengan sifat seperti ini, budidaya ikan lele akan betul-betul menguntungkan kalau dikerjakan secara intensif.
Terdapat dua segmen usaha budidaya ikan lele, yakni segmen pembibitan dan segmen pembesaran. Segmen pembibitan betjuan untuk menciptakan bibit ikan lele, padahal segmen pembesaran bertujuan untuk menciptakan ikan lele siap konsumsi. Pada kans kali ini alamtani akan membahas tahap-tahap persiapan budidaya ikan lele segmen pembesaran.
Penyiapan kolam daerah budidaya ikan lele
Ada bermacam tipe jenis kolam yang dapat diaplikasikan untuk daerah budidaya ikan lele. Tiap-tiap jenis kolam mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing kalau ditinjau dari segi usaha budidaya. Untuk menentukan kolam apa yang sesuai, harap pertimbangkan situasi lingkungan, ketersediaan energi kerja dan sumber dana ada.
Jenis-jenis kolam yang awam diaplikasikan dalam budidaya ikan lele yakni kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring apung dan keramba. Tapi dalam tulisan ini kita akan membahas kolam tanah, mengingat tipe kolam ini paling banyak diaplikasikan oleh para peternak ikan. Sebagai pengetahuan tambahan, silahkan baca sistem membikin kolam ikan. Tingkatan yang semestinya dikerjakan dalam menyiapkan kolam tanah yakni sebagai berikut:
a. Pengeringan dan pengolahan tanah
Sebelum bibit ikan lele ditebarkan, kolam semestinya dikeringkan telebih dulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bertumpu pada teriknya cahaya sang surya. Sebagai tolok ukur, bila permukaan tanah telah retak-retak, kolam dapat dianggap telah cukup kering.
Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus eksistensi mikroorganisme jahat yang menyebabkan benih penyakit. Mikroorganisme hal yang demikian dapat bekembang dari jangka waktu budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, beberapa besar mikroorganisme patogen akan mati.
Sesudah dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan pacul. Pembajakan tanah dibutuhkan untuk membetulkan kegemburan tanah dan buang gas berbisa yang tertimbun di dalam tanah.
Beriringan dengan progres pembajakan, angkat lapisan lumpur hitam yang terdapat di dasar kolam. Lumpur hal yang demikian lazimnya beraroma busuk sebab menaruh gas-gas berbisa seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas-gas itu terwujud dari tumpukan sisa pakan yang tak dimakan ikan.
b. Pengapuran dan pemupukan
Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan menolong memberantas mikroorganisme patogen. Variasi kapur yang diaplikasikan yakni dolomit atau kapur tohor.
Pengapuran dikerjakan dengan sistem ditebar secara merata di permukaan dasar kolam. Sesudah ditebari kapur, balik tanah supaya kapur menyerap ke komponen dalam. Dosis yang dibutuhkan untuk pengapuran yakni 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat keasaman tanah. Kian asam tanah kian banyak kapur yang diperlukan.
Langkah berikutnya yakni pemupukan. Pakai paduan pupuk organik ditambah urea dan TSP. Variasi pupuk organik yang disarankan yakni pupuk sangkar atau pupuk kompos. Dosisnya sebanyak 250-500 gram per meter persegi. Walaupun pupuk kimianya yakni urea dan TSP masing-masing 15 gram dan 10 gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan gizi bagi biota air seperti fitoplankton dan cacing. Biota hal yang demikian berkhasiat untuk makanan natural ikan lele.
c. Penguasaan air kolam
Ketinggian air yang pas untuk budidaya ikan lele yakni 100-120 cm. Pengisian kolam dikerjakan secara berjenjang. Sesudah kolam dipupuk, isi dengan air hingga batas 30-40 cm. Biarkan kolam tersinari sang surya selama satu pekan.
Dengan kedalaman seperti itu, cahaya sang surya masih dapat tembus sampai dasar kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan bagus. Air kolam yang telah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan.
Sesudah satu pekan, bibit ikan lele siap ditebar. Berikutnya, air kolam ditambah secara terstruktur layak dengan pertumbuhan ikan lele hingga pada ketinggian pas.
Tutorial budidaya ikan lele
Pemilihan bibit ikan lele
Tingkat kesuksesan budidaya ikan lele betul-betul diatur oleh kwalitas bibit yang ditebar. Ada sebagian tipe ikan lele yang lazim dibudidayakan di Indonesia. Silahkan baca lebih lanjut mengenai tipe-tipe ikan lele budidaya.
Kami memberi rekomendasi tipe ikan lele Sangkuriang yang dimaksimalkan BBPBAT Sukabumi. Ikan lele sangkuriang ialah hasil koreksi dari lele dumbo. BBPBAT mengoptimalkan ikan lele sangkuriang sebab kwalitas lele dumbo yang ketika ini beredar di masyarakat kian menurun dari waktu ke waktu.
Bibit ikan lele dapat kita temukan dengan sistem membeli atau menjalankan pembibitan ikan lele sendiri. Untuk membikin pembibitan sendiri silahkan baca sistem pembibitan ikan lele dan teknik pemijahan ikan lele.
a. Prasyarat bibit unggul
Bibit yang ditebar semestinya bibit yang benar-benar sehat. Ciri-ciri bibit yang sehat gerakannya lincah, tak terdapat cacat atau luka dipermukaan tubuhnya, bebas dari benih penyakit dan gerakan renangnya normal. Untuk menguji gerakannya, tempatkan ikan pada arus air. Kalau ikan hal yang demikian menantang arah arus air dan dapat bertahan berarti gerakan renangnya bagus.
Ukuran bibit untuk budidaya ikan lele lazimnya mempunyai panjang sekitar 5-7 cm. Usahakan ukurannya rata supaya ikan dapat tumbuh dan berkembang serempak. Dari bibit sebesar itu, dalam bentang waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan diperoleh lele ukuran konsumsi sebesar 9-12 ekor per kilogram.
b. Metode menebar bibit
Sebelum bibit ditebar, lakukan penyesuaian iklim lebih-lebih dulu. Caranya, usul bibit dengan wadahnya (ember/jeriken) ke dalam kolam. Biarkan selama 15 menit supaya terjadi penyesuaian temperatur daerah bibit dengan temperatur kolam sebagai lingkungan barunya. Miringkan wadah dan biarkan bibit keluar dengan sendirinya. Sistem ini berguna mencegah stres pada bibit.
Tebarkan bibit ikan lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Kian bagus kwalitas air kolam, kian tinggi jumlah bibit yang dapat ditampung. Hendaknya tinggi air tak lebih dari 40 cm ketika bibit ditebar. Mempertimbangkan ini menjaga supaya bibit ikan dapat menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan atau bernafas. Pengisian kolam selanjutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan hingga menempuh ketinggian air yang pas.
Maka kapasitas kolam
Berikut ini sistem menghitung kapasitas kolam untuk budidaya ikan lele secara intensif. Asumsi kedalaman kolam 1-1,5 meter (kedalaman yang disarankan). Figur kepadatan tebar benih lele yang disarankan yakni 200-400 ekor per meter persegi. Semakin, untuk kolam berukuran 3 x 4 meter karenanya jumlah benih ikannya minimal (3×4) x 200 = 2400 ekor, optimal (3×4) x 400 = 4800 ekor.
Catatan: kolam tanah kapaistasnya lebih sedikit dari kolam tembok.
Pakan untuk budidaya ikan lele
Pakan ialah bagian tarif terbesar dalam budidaya ikan lele. Ada banyak sekali merek dan variasi pakan di pasaran. Pakan ikan lele yang bagus yakni pakan yang menawarkan Food Convertion Ratio (FCR) lebih kecil dari satu. FCR yakni rasio jumlah pakan berbanding pertumbuhan daging. Kian kecil skor FCR, kian bagus kwalitas pakan.
Untuk menempuh hasil optimal dengan tarif yang minimal, terapkan pemberian pakan utama dan pakan tambahan secara seimbang. Berbagai pakan pabrik terasa mahal, silahkan coba membikin sendiri pakan lele pilihan.
a. Pemberian pakan utama
Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele semestinya banyak mengandung protein hewani. Contohnya awam kandungan gizi yang diperlukan ikan lele yakni protein (minimal 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin dan mineral.
Selain pelet yang dipasarkan dipasaran rata-rata telah dilengkapi dengan keterangan kandungan gizi. Tinggal kita terampil-terampil memilih mana yang dapat diandalkan. Ingat, jangan hingga membeli pakan kadaluarsa.
Pakan semestinya diberi layak dengan keperluan. Contohnya awam tiap-tiap harinya ikan lele membutuhkan pakan 3-6% dari beban tubuhnya. Dapat, ikan lele dengan beban 50 gram membutuhkan pakan sebanyak 2,5 gram (5% beban tubuh) per ekor. Kemudian tiap-tiap 10 hari ambil samplingnya, lalu timbang dan sesuaikan lagi jumlah pakan yang diberi. Dua pekan memasuki panen, prosentase pemberian pakan dikurangi menjadi 3% dari beban tubuh.
Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan. Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian pakan pada ikan yang masih kecil semestinya lebih tak jarang. Karena pemberian pakan dapat pagi, siang, petang dan malam hari.
Ikan lele ialah binatang nokturnal, aktif pada malam hari. Pertimbangkan pemberian pakan lebih banyak pada petang dan malam hari. Si pemberi pakan semestinya jeli mengamati respons ikan. Berikan pakan ketika ikan lele agresif menyantap pakan dan stop bila ikan telah nampak malas untuk menyantapnya.
b. Pemberian pakan tambahan
Seandainya pakan utama, dapat dipertimbangkan juga untuk memberi pakan tambahan. Pemberian pakan tambahan betul-betul membantu menghemat tarif pengeluaran pakan yang menguras kantong.
Kalau kolam kita dekat dengan pelelangan ikan, dapat dipertimbangkan pemberian ikan rucah segar. Ikan rucah yakni hasil ikan tangkapan dari laut yang tak cocok dikonsumsi manusia sebab ukuran atau cacat dalam penangkapannya. Seandainya juga dengan membikin belatung dari campuran ampas tahu.
Keong mas dan limbah ayam dapat diberi dengan pengolahan lebih-lebih dulu. Pengolahannya dapat dikerjakan dengan perebusan. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya, lalu dicacah. Untuk limbah ayam bersihkan bulu-bulunya sebelum diumpankan pada lele.
Satu hal yang semestinya dilihat dalam memberikan pakan ikan lele, jangan hingga terlambat atau kurang. Pengontrolan ikan lele memiliki sifat kanibal, ialah menyenangi memangsa sejenisnya. Kalau kekurangan pakan, ikan-ikan yang lebih besar ukurannya akan memangsa ikan yang lebih kecil.
Pengelolaan air
Mempertimbangkan penting lain dalam budidaya ikan lele yakni pengelolaan air kolam. Untuk menerima hasil optimal kwalitas dan kuantitas air semestinya konsisten terjaga.
Awasi kwalitas air dari timbunan sisa pakan yang tak habis di dasar kolam. Timbunan hal yang demikian akan memunculkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang dicirikan dengan adanya bau busuk.
Kalau telah timbul bau busuk, membuang sepertiga air komponen bawah. Kemudian isi lagi dengan air baru. Frekuensi pembuangan air betul-betul tergantung pada adat istiadat pemberian pakan. Kalau dalam pemberian pakan banyak memunculkan sisa, pergantian air akan lebih tak jarang dikerjakan.
hama dan penyakit
Hama yang paling awam dalam budidaya ikan lele antara lain hama predator seperti linsang, ular, sero, musang air dan burung. Walaupun hama yang menjadi pesaing antara lain ikan mujair. Untuk mencegahnya yakni dengan memasang filter pada jalan masuk dan keluar air atau memasang pagar di sekeliling kolam.
Penyakit pada budidaya ikan lele dapat datang dari protozoa, kuman dan virus. Ketiga mikroorganisme ini menyebabkan bermacam penyakit yang mematikan. diantaranya yakni bintik putih, begah perut dan luka di kepala dan ekor.
Untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi yakni dengan menjaga kwalitas air, membatasi kelebihan pakan, menjaga kebersihan kolam, dan mempertahankan temperatur kolam pada kisaran 28oC. Seandainya penyakit infeksi, ikan lele juga dapat terserang penyakit non-infeksi seperti kuning, kekurangan vitamin dan lain-lain. Untuk mengenal lebih jauh seputar pembatasan penyakit silahkan baca pembatasan hama dan penyakit ikan lele.
Panen budidaya ikan lele
Ikan lele dapat dipanen sesudah menempuh ukuran 9-12 ekor per kg. Ukuran sebesar itu dapat ditempuh dalam tempo 2,5-3,5 bulan dari bibit berukuran 5-7 cm. Berbeda dengan konsumsi dalam negeri, ikan lele untuk tujuan ekspor lazimnya menempuh ukuran 500 gram per ekor.
Satu hari (24 jam) sebelum panen, sebaiknya ikan lele tak diberikan pakan supaya tak membuang kotoran ketika diangkut. Pada ketika ikan lele dipanen lakukan sortasi untuk misahkan lele menurut ukurannya. Pemisahan ukuran berakibat pada harga. Ikan lele yang telah disortasi menurut ukuran akan meningkatkan pendapatan bagi peternak.
Terdapat dua segmen usaha budidaya ikan lele, yakni segmen pembibitan dan segmen pembesaran. Segmen pembibitan betjuan untuk menciptakan bibit ikan lele, padahal segmen pembesaran bertujuan untuk menciptakan ikan lele siap konsumsi. Pada kans kali ini alamtani akan membahas tahap-tahap persiapan budidaya ikan lele segmen pembesaran.
Penyiapan kolam daerah budidaya ikan lele
Ada bermacam tipe jenis kolam yang dapat diaplikasikan untuk daerah budidaya ikan lele. Tiap-tiap jenis kolam mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing kalau ditinjau dari segi usaha budidaya. Untuk menentukan kolam apa yang sesuai, harap pertimbangkan situasi lingkungan, ketersediaan energi kerja dan sumber dana ada.
Jenis-jenis kolam yang awam diaplikasikan dalam budidaya ikan lele yakni kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring apung dan keramba. Tapi dalam tulisan ini kita akan membahas kolam tanah, mengingat tipe kolam ini paling banyak diaplikasikan oleh para peternak ikan. Sebagai pengetahuan tambahan, silahkan baca sistem membikin kolam ikan. Tingkatan yang semestinya dikerjakan dalam menyiapkan kolam tanah yakni sebagai berikut:
a. Pengeringan dan pengolahan tanah
Sebelum bibit ikan lele ditebarkan, kolam semestinya dikeringkan telebih dulu. Lama pegeringan berkisar 3-7 hari atau bertumpu pada teriknya cahaya sang surya. Sebagai tolok ukur, bila permukaan tanah telah retak-retak, kolam dapat dianggap telah cukup kering.
Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus eksistensi mikroorganisme jahat yang menyebabkan benih penyakit. Mikroorganisme hal yang demikian dapat bekembang dari jangka waktu budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, beberapa besar mikroorganisme patogen akan mati.
Sesudah dikeringkan, permukaan tanah dibajak atau dibalik dengan pacul. Pembajakan tanah dibutuhkan untuk membetulkan kegemburan tanah dan buang gas berbisa yang tertimbun di dalam tanah.
Beriringan dengan progres pembajakan, angkat lapisan lumpur hitam yang terdapat di dasar kolam. Lumpur hal yang demikian lazimnya beraroma busuk sebab menaruh gas-gas berbisa seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas-gas itu terwujud dari tumpukan sisa pakan yang tak dimakan ikan.
b. Pengapuran dan pemupukan
Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan keasaman kolam dan menolong memberantas mikroorganisme patogen. Variasi kapur yang diaplikasikan yakni dolomit atau kapur tohor.
Pengapuran dikerjakan dengan sistem ditebar secara merata di permukaan dasar kolam. Sesudah ditebari kapur, balik tanah supaya kapur menyerap ke komponen dalam. Dosis yang dibutuhkan untuk pengapuran yakni 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada derajat keasaman tanah. Kian asam tanah kian banyak kapur yang diperlukan.
Langkah berikutnya yakni pemupukan. Pakai paduan pupuk organik ditambah urea dan TSP. Variasi pupuk organik yang disarankan yakni pupuk sangkar atau pupuk kompos. Dosisnya sebanyak 250-500 gram per meter persegi. Walaupun pupuk kimianya yakni urea dan TSP masing-masing 15 gram dan 10 gram per meter persegi. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menyediakan gizi bagi biota air seperti fitoplankton dan cacing. Biota hal yang demikian berkhasiat untuk makanan natural ikan lele.
c. Penguasaan air kolam
Ketinggian air yang pas untuk budidaya ikan lele yakni 100-120 cm. Pengisian kolam dikerjakan secara berjenjang. Sesudah kolam dipupuk, isi dengan air hingga batas 30-40 cm. Biarkan kolam tersinari sang surya selama satu pekan.
Dengan kedalaman seperti itu, cahaya sang surya masih dapat tembus sampai dasar kolam dan memungkinkan biota dasar kolam seperti fitoplankton tumbuh dengan bagus. Air kolam yang telah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan.
Sesudah satu pekan, bibit ikan lele siap ditebar. Berikutnya, air kolam ditambah secara terstruktur layak dengan pertumbuhan ikan lele hingga pada ketinggian pas.
Tutorial budidaya ikan lele
Pemilihan bibit ikan lele
Tingkat kesuksesan budidaya ikan lele betul-betul diatur oleh kwalitas bibit yang ditebar. Ada sebagian tipe ikan lele yang lazim dibudidayakan di Indonesia. Silahkan baca lebih lanjut mengenai tipe-tipe ikan lele budidaya.
Kami memberi rekomendasi tipe ikan lele Sangkuriang yang dimaksimalkan BBPBAT Sukabumi. Ikan lele sangkuriang ialah hasil koreksi dari lele dumbo. BBPBAT mengoptimalkan ikan lele sangkuriang sebab kwalitas lele dumbo yang ketika ini beredar di masyarakat kian menurun dari waktu ke waktu.
Bibit ikan lele dapat kita temukan dengan sistem membeli atau menjalankan pembibitan ikan lele sendiri. Untuk membikin pembibitan sendiri silahkan baca sistem pembibitan ikan lele dan teknik pemijahan ikan lele.
a. Prasyarat bibit unggul
Bibit yang ditebar semestinya bibit yang benar-benar sehat. Ciri-ciri bibit yang sehat gerakannya lincah, tak terdapat cacat atau luka dipermukaan tubuhnya, bebas dari benih penyakit dan gerakan renangnya normal. Untuk menguji gerakannya, tempatkan ikan pada arus air. Kalau ikan hal yang demikian menantang arah arus air dan dapat bertahan berarti gerakan renangnya bagus.
Ukuran bibit untuk budidaya ikan lele lazimnya mempunyai panjang sekitar 5-7 cm. Usahakan ukurannya rata supaya ikan dapat tumbuh dan berkembang serempak. Dari bibit sebesar itu, dalam bentang waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan diperoleh lele ukuran konsumsi sebesar 9-12 ekor per kilogram.
b. Metode menebar bibit
Sebelum bibit ditebar, lakukan penyesuaian iklim lebih-lebih dulu. Caranya, usul bibit dengan wadahnya (ember/jeriken) ke dalam kolam. Biarkan selama 15 menit supaya terjadi penyesuaian temperatur daerah bibit dengan temperatur kolam sebagai lingkungan barunya. Miringkan wadah dan biarkan bibit keluar dengan sendirinya. Sistem ini berguna mencegah stres pada bibit.
Tebarkan bibit ikan lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Kian bagus kwalitas air kolam, kian tinggi jumlah bibit yang dapat ditampung. Hendaknya tinggi air tak lebih dari 40 cm ketika bibit ditebar. Mempertimbangkan ini menjaga supaya bibit ikan dapat menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan atau bernafas. Pengisian kolam selanjutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan hingga menempuh ketinggian air yang pas.
Maka kapasitas kolam
Berikut ini sistem menghitung kapasitas kolam untuk budidaya ikan lele secara intensif. Asumsi kedalaman kolam 1-1,5 meter (kedalaman yang disarankan). Figur kepadatan tebar benih lele yang disarankan yakni 200-400 ekor per meter persegi. Semakin, untuk kolam berukuran 3 x 4 meter karenanya jumlah benih ikannya minimal (3×4) x 200 = 2400 ekor, optimal (3×4) x 400 = 4800 ekor.
Catatan: kolam tanah kapaistasnya lebih sedikit dari kolam tembok.
Pakan untuk budidaya ikan lele
Pakan ialah bagian tarif terbesar dalam budidaya ikan lele. Ada banyak sekali merek dan variasi pakan di pasaran. Pakan ikan lele yang bagus yakni pakan yang menawarkan Food Convertion Ratio (FCR) lebih kecil dari satu. FCR yakni rasio jumlah pakan berbanding pertumbuhan daging. Kian kecil skor FCR, kian bagus kwalitas pakan.
Untuk menempuh hasil optimal dengan tarif yang minimal, terapkan pemberian pakan utama dan pakan tambahan secara seimbang. Berbagai pakan pabrik terasa mahal, silahkan coba membikin sendiri pakan lele pilihan.
a. Pemberian pakan utama
Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele semestinya banyak mengandung protein hewani. Contohnya awam kandungan gizi yang diperlukan ikan lele yakni protein (minimal 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin dan mineral.
Selain pelet yang dipasarkan dipasaran rata-rata telah dilengkapi dengan keterangan kandungan gizi. Tinggal kita terampil-terampil memilih mana yang dapat diandalkan. Ingat, jangan hingga membeli pakan kadaluarsa.
Pakan semestinya diberi layak dengan keperluan. Contohnya awam tiap-tiap harinya ikan lele membutuhkan pakan 3-6% dari beban tubuhnya. Dapat, ikan lele dengan beban 50 gram membutuhkan pakan sebanyak 2,5 gram (5% beban tubuh) per ekor. Kemudian tiap-tiap 10 hari ambil samplingnya, lalu timbang dan sesuaikan lagi jumlah pakan yang diberi. Dua pekan memasuki panen, prosentase pemberian pakan dikurangi menjadi 3% dari beban tubuh.
Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan. Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian pakan pada ikan yang masih kecil semestinya lebih tak jarang. Karena pemberian pakan dapat pagi, siang, petang dan malam hari.
Ikan lele ialah binatang nokturnal, aktif pada malam hari. Pertimbangkan pemberian pakan lebih banyak pada petang dan malam hari. Si pemberi pakan semestinya jeli mengamati respons ikan. Berikan pakan ketika ikan lele agresif menyantap pakan dan stop bila ikan telah nampak malas untuk menyantapnya.
b. Pemberian pakan tambahan
Seandainya pakan utama, dapat dipertimbangkan juga untuk memberi pakan tambahan. Pemberian pakan tambahan betul-betul membantu menghemat tarif pengeluaran pakan yang menguras kantong.
Kalau kolam kita dekat dengan pelelangan ikan, dapat dipertimbangkan pemberian ikan rucah segar. Ikan rucah yakni hasil ikan tangkapan dari laut yang tak cocok dikonsumsi manusia sebab ukuran atau cacat dalam penangkapannya. Seandainya juga dengan membikin belatung dari campuran ampas tahu.
Keong mas dan limbah ayam dapat diberi dengan pengolahan lebih-lebih dulu. Pengolahannya dapat dikerjakan dengan perebusan. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya, lalu dicacah. Untuk limbah ayam bersihkan bulu-bulunya sebelum diumpankan pada lele.
Satu hal yang semestinya dilihat dalam memberikan pakan ikan lele, jangan hingga terlambat atau kurang. Pengontrolan ikan lele memiliki sifat kanibal, ialah menyenangi memangsa sejenisnya. Kalau kekurangan pakan, ikan-ikan yang lebih besar ukurannya akan memangsa ikan yang lebih kecil.
Pengelolaan air
Mempertimbangkan penting lain dalam budidaya ikan lele yakni pengelolaan air kolam. Untuk menerima hasil optimal kwalitas dan kuantitas air semestinya konsisten terjaga.
Awasi kwalitas air dari timbunan sisa pakan yang tak habis di dasar kolam. Timbunan hal yang demikian akan memunculkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang dicirikan dengan adanya bau busuk.
Kalau telah timbul bau busuk, membuang sepertiga air komponen bawah. Kemudian isi lagi dengan air baru. Frekuensi pembuangan air betul-betul tergantung pada adat istiadat pemberian pakan. Kalau dalam pemberian pakan banyak memunculkan sisa, pergantian air akan lebih tak jarang dikerjakan.
hama dan penyakit
Hama yang paling awam dalam budidaya ikan lele antara lain hama predator seperti linsang, ular, sero, musang air dan burung. Walaupun hama yang menjadi pesaing antara lain ikan mujair. Untuk mencegahnya yakni dengan memasang filter pada jalan masuk dan keluar air atau memasang pagar di sekeliling kolam.
Penyakit pada budidaya ikan lele dapat datang dari protozoa, kuman dan virus. Ketiga mikroorganisme ini menyebabkan bermacam penyakit yang mematikan. diantaranya yakni bintik putih, begah perut dan luka di kepala dan ekor.
Untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi yakni dengan menjaga kwalitas air, membatasi kelebihan pakan, menjaga kebersihan kolam, dan mempertahankan temperatur kolam pada kisaran 28oC. Seandainya penyakit infeksi, ikan lele juga dapat terserang penyakit non-infeksi seperti kuning, kekurangan vitamin dan lain-lain. Untuk mengenal lebih jauh seputar pembatasan penyakit silahkan baca pembatasan hama dan penyakit ikan lele.
Panen budidaya ikan lele
Ikan lele dapat dipanen sesudah menempuh ukuran 9-12 ekor per kg. Ukuran sebesar itu dapat ditempuh dalam tempo 2,5-3,5 bulan dari bibit berukuran 5-7 cm. Berbeda dengan konsumsi dalam negeri, ikan lele untuk tujuan ekspor lazimnya menempuh ukuran 500 gram per ekor.
Satu hari (24 jam) sebelum panen, sebaiknya ikan lele tak diberikan pakan supaya tak membuang kotoran ketika diangkut. Pada ketika ikan lele dipanen lakukan sortasi untuk misahkan lele menurut ukurannya. Pemisahan ukuran berakibat pada harga. Ikan lele yang telah disortasi menurut ukuran akan meningkatkan pendapatan bagi peternak.
Comments
Post a Comment